Tingkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris Para Bidan

Usrek Werdiningsih, Ketua IBI Banyuwangi

Ketua IBI Banyuwangi Usrek Werdiningsih

Ketua IBI Banyuwangi Usrek Werdiningsih

Sebagai kawasan yang berdekatan dengan Pulau Bali, tak menutup kemungkinan Banyuwangi akan menjadi tujuan bagi para tenaga asing, termasuk tenaga medis. Apalagi di penghujung tahun ini, Indonesia akan menghadapi MEA yang tentu saja akan semakin membuka peluang masuknya tenaga asing.

Berangkat dari alasan tersebut, Usrek Werdiningsih, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Banyuwangi berupaya untuk menggenjot kemampuan berbahasa Inggris bagi para bidan di daerah yang terkenal dengan sebutan ‘Bumi Gandrung’ itu.

“Harus diakui bahwa bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang dibutuhkan agar mampu bersaing secara global. Bidan juga harus demikian, kemampuan bahasa Inggrisnya harus ditingkatkan agar tidak tergilas tenaga asing,” tegas Usrek.

Materi bahasa Inggris pun lantas diselipkan dalam pelatihan yang diberikan kepada para bidan. IBI Banyuwangi sendiri saat ini beranggotakan 611 anggota.

Selain itu, kelayakan tempat praktek menjadi perhatian tersendiri bagi Usrek. Dituturkannya, syarat untuk membuka tempat praktek bidan di Banyuwangi cukup tinggi. Setidaknya terdapat 16 item yang harus dipenuhi seorang bidan untuk bisa membuka tempat praktek.

“Kalau di kota lain mungkin hanya 7 item, tapi di sini itemnya cukup banyak, ada 16 item dan salah satunya kelayakan tempat,” ujarnya.

Tempat praktek, lanjut Usrek, harus berdiri sendiri dan tidak menyatu dengan rumah tinggal. Sementara itu, di Banyuwangi sendiri awareness masyarakat terhadap keberadaan bidan cukup menggembirakan. Bahkan, masyarakat setempat mendorong bidan untuk berkiprah di dunia politik.

“Masyarakat disini malah ingin ada bidan yang duduk sebagai anggota legislatif, jadi tidak melulu berkutat dengan dunia persalinan,” tukasnya.

Diakui Usrek, para bidan saat ini terlalu asyik dengan dunianya sehingga lupa untuk mengeksplorasi diri. Padahal hal tersebut sangat penting untuk mengembangkan kemampuan bidan itu sendiri. Hal ini pun juga pernah diterapkan Usrek saat mengawali profesinya sebagai bidan.

“Saya awal jadi bidan tahun 1981 dan praktek di rumah sakit. Baru di tahun 1989 saya mulai bertugas di desa. Saat itu sangat sulit untuk mendekati masyarakat, namun saya terus berupaya salah satunya dengan menggunakan bakat saya,” jelas wanita yang pernah melakoni beberapa bidang ini, mulai dari perias pengantin hingga biduan.

Usrek pun ‘bergerilya’ di majelis pengajian agar dapat mendekati warga. Usia yang tergolong muda kala itu membuat semangat Usrek menggebu-gebu melakoni profesinya sebagai bidan. Pelan tapi pasti Usrek pun dapat mengambil hati masyarakat.

Kini wanita kelahiran tahun 1959 itu ingin para bidan lebih mengeksplorasi diri dan lebih komunikatif terhadap masyarakat yang sudah aware akan keberadaan bidan.

“Kita perlu menginformasikan kepada masyarakat tentang kegiatan yang kita lakukan agar mereka tahu dan dapat memberikan masukan kepada kita. Ini juga menjadi salah satu cara bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas,” pungkasnya.

 

Riwayat pendidikan:

  • 1980: Lulus sekolah kebidanan
  • 1984: Kursus anastesi, Medical Record (MR)
  • 2002: Menempuh pendidikan di Universitas Terbuka, jurusan komunikasi
  • 2002: Lulus D3 Kebidanan