Tak Ingin Para Bidan Gulung Tikar

Tidak ada komentar 1641 views
Suhartini, Ketua IBI Surabaya

Suhartini, Ketua IBI Surabaya

Mulai 1 Juli 2015, seluruh perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya ke BPJS Ketenagakerjaan. Ini tentu saja kian meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi kesehatan. Disisi lain, kian meningkatnya para peserta BPJS justru menimbulkan kecemasan tersendiri bagi Suhartini, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Surabaya. Pasalnya, hingga detik ini para bidan di Surabaya belum menangani pasien BPJS.

“Kalau semua persalinan pakai BPJS, sementara para bidan masih belum bisa menangani pasien BPJS, saya khawatir mereka (bidan,red) akan banyak yang tutup karena tak ada pasien,” ujar Suhartini.

Diakui Suhartini, hingga kini belum ada klinik, rumah sakit, hingga puskesmas di Surabaya yang bekerja sama dengan bidan untuk menangani pasien BPJS. Tak ingin para bidan tersebut gulung tikar’, Suhartini pun bergerak cepat.

“Saya akan melakukan advokasi apakah itu ke Dinas Kesehatan atau Pemkot Surabaya agar para bidan juga bisa mendapatkan pasien BPJS, minimal bidan yang praktek di puskesmas,” tegas ibu dua anak ini.

Melakukan advokasi bagi para bidan agar mendapatkan pasien BPJS, merupakan salah satu program yang akan dilaksanakan Suhartini dalam masa kepemimpinannya kali ini. Selain itu, Suhartini juga akan berupaya untuk terus meningkatkan skill para bidan lewat pelatihan-pelatihan sekaligus pembekalan aspek hukum terkait profesi bidan.

Hal tersebut, lanjut Suhartini, penting dilakukan terlebih Indonesia akan menghadapi MEA pada akhir tahun ini. “Kemampuan para bidan harus ditingkatkan agar mampu bersaing,” imbuh wanita yang menekuni profesi sebagai bidan sejak tahun 1974 ini.

Program lain yang akan dijalankan Suhartini adalah meningkatkan jumlah bidan delima di Surabaya. Untuk diketahui, IBI Surabaya beranggotakan 1.537 bidan. Dari jumlah tersebut, 60 persen telah menjadi bidan delima.

“Jumlah bidan delima di Surabaya harus meningkat, syukur-syukur kalau bisa 100 persen sudah menjadi bidan delima,” harap Suhartini.

Sementara itu, keengganan para bidan senior mengikuti pelatihan dirasakan Suhartini cukup menjadi kendala untuk meningkatkan kompetensi bidan di Surabaya. Padahal jika berkaca dari pengalamannya selama puluhan tahun menjadi bidan, kondisi saat jauh lebih mendukung bagi seorang bidan dalam menjalankan tugasnya.

“Kalau sekarang sudah enak, sarana dan prasarana mendukung. Kalau jaman saya awal jadi bidan sangat memprihatinkan. Bertugas di tempat terpencil tanpa fasilitas yang mendukung dan warga yang masih belum terbuka akan kehadiran bidan. Dulu warga lebih memilih dukun beranak,” ungkap Suhartini.

Suhartini pun berkisah, awal dirinya menjadi bidan harus bertugas di daerah pelosok Bojonegoro. Di tempat ini Suhartini harus ‘bersaing’ dengan dukun beranak. Bahkan Suhartini kerap menerima pasien sisa dari penanganan dukun beranak dengan kondisi yang cukup memprihatinkan.

“Dulu sangat susah, saya sering terima pasien yang kondisinya cukup memprihatinkan. Kadang ada yang tidak bisa tertolong karena kondisinya sudah sangat parah. Kalau ingat itu semua, sampai sekarang saya masih sedih,” kenangnya.

Suhartini pun berharap para bidan dapat lebih kooperatif dalam mengikuti pelatihan. Hal ini penting bagi kelanjutan profesi mereka sendiri.

 

Riwayat pendidikan:

  • 1974 : Lulus pendidikan bidan
  • 2009 : Lulus D3 Akbid
  • 2011 : Lulus D4 Akbid
  • 2014 : Lulus S2 Kebidanan di UNS