Pentingnya Pengenalan Makanan Bervariasi di Usia Dini

dr. Louisa A. Langi, Msi, MA, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia saat berbicara mengenai Pentingnya Pengenalan Makanan Bervariasi di Usia Dini

dr. Louisa A. Langi, Msi, MA, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia saat berbicara mengenai Pentingnya Pengenalan Makanan Bervariasi di Usia Dini

Sejak dini buah hati harus dikenalkan dengan makanan bervariasi, utamanya saat usia 2-5 tahun. Saat usia tersebut lidah si kecil mulai mengenal rasa. Pengenalan makanan bervariasi penting dilakukan sejak usia dini agar lidah buah hati nantinya tak kaget dengan variasi rasa pada makanan dan tentunya tak rewel dalam memilih jenis makanan.

Namun sayangnya hal tersebut tak banyak orang tua yang melakukannya. Mereka cenderung memberikan jenis makanan yang sama setiap harinya pada si kecil. Hal itu seperti diungkapkan dr. Louisa A.Langi, Msi, MA, ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia.

“Kalau sejak kecil anak-anak hanya mengenal menu itu-itu saja jangan heran kalau nantinya mereka rewel soal makanan, tidak doyan buah atau sayuran. Lidah mereka kurang peka dengan menu-menu lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut dr. Louisa menuturkan, makanan memiliki tiga fungsi penting yakni untuk membantu masa pertumbuhan, sebagai zat pengatur/pelindung agar tubuh tidak mudah sakit, dan sebagai zat pembangun. Ketiga fungsi ini dikenal sebagai triguna pangan.

Untuk membantu masa pertumbuhan dibutuhkan makanan yang mengandung karbohidrat, misalnya nasi, roti, kentang, mie, dan umbi-umbian. Sedangkan zat pengatur/pelindung tubuh dapat dijumpai pada sayur-sayuran dan buah-buahan. Setiap hari setidaknya mengonsumsi 5 jenis sayur dan buah-buahan.

Sementara itu untuk zat pembangun dibutuhkan makanan yang mengandung protein nabati/hewani.

“Mengingat pentingnya fungsi makanan bagi tubuh itulah mengapa harus makan makanan yang beragam. Jangan sampai nantinya si kecil rewel soal makanan karena akan berdampak pada masa pertumbuhannya,” tukas Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Kristen Indonesia ini.

Makanan yang beragam, lanjutnya, sejatinya sangat mudah dijumpai di Indonesia mengingat kondisi kekayaan alam yang melimpah. Namun minimnya pengetahuan masyarakat tentang keragaman bahan makanan menjadi salah satu alasan pengolahannya yang juga masih terbatas.

“Bahan makanan di Indonesia sangat melimpah dan beragam tapi tidak dibarengi dengan tingkat pengetahuan yang memadai. Sehingga makanan yang dikonsumsi monoton. Itu juga menjadi salah satu penyebab gizi buruk di Indonesia masih tinggi,” tegasnya.

Bicara soal gizi buruk, dr. Louisa mengungkapkan di beberapa wilayah di Indonesia sebanyak 45 hingga 50 persen penduduknya menderita gizi buruk.

“Sangat miris, kondisi kekayaan alam yang melimpah namun masih banyak dijumpai penderita gizi buruk,” simpulnya. (rur)