Pemprov Jatim Akan Angkat Bidan Dari Daerah Kepulauan

Gubernur Jatim Soekarwo

Gubernur Jatim Soekarwo – Akan Mengangkat Bidan Dari Daerah Kepulauan

 

Untuk mengatasi permasalahan rekruitmen tenaga medis di daerah kepulauan, Pemerintah Propinsi Jatim mempunyai kebijakan akan mengangkat bidan atau perawat yang berasal dari daerah kepulauan, misalnya Sapeken, Raas, Masalembu, Kangean.

“Kendalanya adalah masalah rekruitmen (penerimaan tenaga medis). Apabila  tenaga medis tersebut telah keluar dari daerah kepulauan untuk menempuh pendidikan, mereka tidak mau kembali ke daerah asalnya,” jelas Gubernur Jatim Soekarwo.

Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh stake holder bidang kesehatan. “IPM (Indeks Pembangunan Masyarakat) Jawa Timur mencapai 0,78, terungkit dari sektor kesehatan. Merupakan IPM tertinggi di tingkat nasional. Hal tersebut dapat tercapai atas kerja keras dan tanpa pamrih dari seluruh stake holder,” ungkapnya.

Salah satu upaya yang ikut mengungkit IPM Prov. Jatim adalah kebijakan Pemprov. yang mengubah Polindes menjadi Ponkesdes (satu bidan, dua perawat). Satu perawat bertugas membantu bidan untuk melayani kesehatan masyarakat, sedangkan satu perawat lainnya menyosialisasikan tindakan  promotif dan preventif kesehatan tanpa meninggalkan tindakan kuratif dan rehabilitatif.

“Kebijakan tersebut diharapkan dapat memberdayakan masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Merupakan gerakan dari hulu menuju ke hilir,” ujar Pakde sapaan akrab Soekarwo.

Lebih lanjut dituturkan, Pemprov Jatim rutin bekerjasama dengan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) untuk memutar daerah kerja dokter spesialis, utamanya untuk ditempatkan di daerah pedalaman. “Biaya yang yang cukup tinggi untuk menempatkan dokter spesialis di daerah pedalaman bukan merupakan permasalahan, karena service atau pelayanan merupakan kerja sosial, tidak ada efisiensi,” jelasnya.

Selain membicarakan permasalahan rekruitmen tenaga medis di daerah kepulauan, Pakde Karwo menyampaikan beberapa permasalahan kesehatan di Jatim, misalnya AKI (Angka Kematian Ibu) yang masih tinggi, masih menjadi fokus perhatian.

Sedangkan rencana untuk tahun 2016 adalah tetap menekankan pentingnya pelayanan promotif dan preventif walaupun tidak mengenyampingkan tindakan kuratif dan rehabilitatif. Selanjutnya secara terpadu semua stake holder dapat bergerak mewujudkan Jawa Timur bebas pasung, HIV-AIDS, Kusta dan TBC , gizi buruk dan gizi berlebihan.

Pake Karwo sangat mengharapkan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) kedepan tidak terjadi lagi peningkatan kasus yang tinggi bahkan yang mengakibatkan kematian.

“Nyamuk merupakan kunci pencegahan DBD. Untuk itu kader merupakan kekuatan dan motor penggerak di masyarakat. Oleh karena itu saya bersama Ketua TP. PKK Prov. Jatim bersama-sama mencanangkan Gerakan Satu Rumah Satu Kader Jumantik sebagai wujud peran seluruh keluarga di Jatim dalam pengendalian DBD. Perbanyak jumlah Relawan Jumantik,” pintanya.