Malu dan Takut Jadi Penyebab Kasus Kanker Serviks Terlambat Ditangani

ilustrasi

Kanker serviks atau disebut juga kanker leher rahim merupakan salah satu jenis kanker  yang paling banyak ditemui pada kalangan wanita, setelah kanker payudara. Malu dan Takut Jadi Penyebab Kasus Kanker Serviks Terlambat Ditangani.

“Dalam satu hari, sekitar 7-9 pasien baru kanker serviks yang dapat Kami temukan di poli onkologi RSUD Dr. Soetomo dengan stadium kanker rata-rata IIB hingga  IIIB,”  terang dr. Pungky Mulawardhana SpOG dari Divisi Onkologi Ginekologi RSUD dr.Soetomo.

Namun sayangnya, banyak kasus terjadi pada penderita kanker servik itu terlambat ditangani karena penderita merasa malu atau takut. “Karakteristik masyarakat kita yang merasa malu dan takut jika ketahuan sakit menjadi faktor penyebab kasus kanker serviks tersebut terlambat ditangani dan ditemukan sudah dalam stadium berat,” tambahnya.

Penyebab utama dari kanker serviks adalah infeksi Human Papilloma Virus (HPV) melalui hubungan seksual, terutama tipe-tipe virus onkogenik, yaitu tipe 16, 18, dan 31, 33, 45, 52, 58. Sedangkan untuk tipe HPV non onkogenik biasanya merupakan penyebab Kondiloma Akuminata.

Selain itu, faktor resiko lain juga turut andil dalam kesuksesan perjalanan kanker serviks, antara lain:

1.Usia pertama kali menikah

Hal ini berhubungan dengan kontak pertama kali seorang perempuan melakukan hubungan seksual. Hubungan seksual yang sehat semestinya dilakukan oleh perempuan yang telah memiliki kematangan pada organ reproduksi.

Salah satunya adalah kematangan pada sel-sel mukosa serviks, yang pada umumnya akan matang setelah perempuan berusia 20 tahun ke atas.

2. Perempuan dengan aktivitas seksual tinggi, sering berganti pasangan

Hal ini tentu bukan pola seksual yang sehat dan dapat meningkatkan terjadinya penyakit menular seksual.

3. Konsumsi rokok

Wanita perokok beresiko dua kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan dengan wanita yang tidak merokok. Lendir serviks pada wanita perokok mengandung nikotin dan zat berbahaya lain yang akan menurunkan daya tahan serviks dan meningkatkan karsinogen infeksi virus.

4. Paritas (jumlah kelahiran)

Perempuan yang sering melahirkan (banyak anak) dan jarak persalinan yang pendek termasuk golongan risiko tinggi untuk terkena penyakit kanker leher rahim. Karena lebih sering terjadi perlukaan di organ reproduksi, yang memudahkan infeksi.

5. Golongan sosio ekonomi rendah

Hal ini berhubungan dengan ketersediaan biaya untuk melakukan tes kesehatan secara rutin. Selain itu, pendidikan dan pengetahuan yang rendah dapat menyebabkan seseorang tidak peduli terhadap program kesehatan yang ada, meskipun fasilitas dan sarana telah disediakan.

 

Selain faktor-faktor diatas, terdapat pula beberapa factor tidak langsung yang juga meningkatkan resiko kejadian kanker serviks. Diantaranya yaitu usia, penggunaan antiseptik vagina secara berlebihan, pemakaian kontrasepsi oral serta defisiensi zat-zat makanan tertentu.

Upaya promotif dan preventif masih menjadi pilihan terbaik untuk mencegah kejadian kanker serviks. Pemberian informasi dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kanker serviks harus terus dilakukan agar masyarakat lebih mandiri dan sadar dengan kondisi kesehatannya. Karena hampir sebagian besar stadium awal kanker serviks tidak menunjukkan gejala yang signifikan. Jika sudah pada stadium lanjut baru akan muncul keluhan berarti dari manifestasi kanker yang telah menyebar.

“Boleh dikatakan bahwa orang yang terkena kanker serviks merupakan orang yang rugi. Karena kanker serviks adalah jenis kanker yang paling bisa dicegah dari semua jenis kanker,” terang dr.Pungky.

Pemberian vaksin HPV sebelum melakukan kontak seksual pertama dapat mencegah kejadian kanker serviks secara efektif.  Selain itu, natural history kanker serviks yang membutuhkan waktu bertahun-tahun sangat memungkinkan untuk dilakukan deteksi dini agar prognosisnya jauh lebih baik.

Berbagai metode deteksi dini kanker serviks pun telah tersedia dan dapat dijadikan pilihan. Seperti Pap Smear, IVA, cervicography, tes HPV/DNA dll. Terlebih pada era sekarang, untuk mendapatkan pelayanan skrining kanker serviks jauh lebih mudah. Karena untuk mendapat pelayanan tes IVA, masyarakat dapat menggunakan BPJS, baik di puskesmas atau rumah sakit oleh perawat, bidan maupun dokter.

“Meskipun telah mendapatkan vaksinasi, selanjutnya dianjurkan untuk tetap melakukan pemeriksaan Pap rutin, karena tidak semua tipe virus HPV penyebab kanker serviks dapat dicegah dengan vaksin tersebut,”  tambah Pungky.

Bidan sebagai profesi kesehatan yang terdidik berperan untuk memberikan dorongan dan edukasi kepada masyarakat sebagai upaya pencegahan kanker serviks. Selain itu, bidan juga harus memaksimalkan pelaksanaan deteksi dini kanker serviks baik secara mandiri, kolaborasi maupun rujukan. Sehingga derajat kesehatan perempuan Indonesia dapat semakin ditingkatkan.

Penulis : Erni Rosita Dewi (Mahasiswa semester VII S1 Pendidikan Bidan Fakultas Kedokteran Universitas  Airlangga)