Jalin Kemitraan dengan Dukun Beranak

Tidak ada komentar 522 views

Ketua PC IBI Probolinggo Nuryati SST

Ketua PC IBI Probolinggo Nuryati SST

Ketua PC IBI Probolinggo Nuryati SST

Keberadaan  bidan di beberapa wilayah di kabupaten Probolinggo, utamanya di daerah pelosok masih belum bisa sepenuhnya diterima masyarakat. Mereka masih lebih memilih meminta pertolongan dukun beranak. Hal ini seperti yang diungkapkan Nuryati, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Probolinggo.

“Penerimaan bidan oleh masyarakat Probolinggo beragam. Mereka yang tinggal di pelosok masih lebih percaya dukun beranak. Ini tidak terlepas dari minimnya pengetahuan warga,” ujar Nuryati.

Menyadari hal itu, pihaknya pun getol melakukan kemitraan dengan dukun beranak. Kemitraan ini juga didukung Pemkab Probolinggo. Adapun bentuk dari kemitraan tersebut yakni setiap tahunnya digelar pertemuan dengan dukun beranak. Dalam pertemuan tersebut disepakati bahwa dukun beranak tidak diperkenankan melakukan pertolongan pada persalinan. Mereka hanya sebatas memandikan bayi.

“Itu salah satu bentuk kemitraan kami dengan dukun beranak. Dan ini disaksikan oleh lintas sektor terkait,” imbuhnya.

Meski demikian, kata Nuryati, tak ada sanksi yang diberikan kepada dukun beranak yang melanggar kemitraan tersebut. Mereka hanya diberikan pembinaan.

“Intinya kita melakukan pendekatan secara persuasif kepada dukun beranak. Kita bahu membahu untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi,” tegas wanita kelahiran 7 Februari 1967 ini.

Selain kemitraan dengan dukun beranak, lanjut Nuryati, sejumlah program juga dilakukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Diantaranya program sunami, yakni sistem informasi manajemen ibu hamil. Kemudian program gemasiba atau gerakan bersama selamatkan ibu dan sehatkan anak.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Semua program tersebut didukung penuh oleh Pemkab Probolinggo. Bahkan bupati juga kerap turun ke posyandu-posyandu. Itu menjadi hal yang patut kami syukuri,” ujarnya.

Sementara itu bagi para bidan muda, Nuryati berpesan agar selalu meningkatkan kompetensi. Ini bisa diwujudkan dengan mengikuti program magang selama dua tahun. Dikatakan Nuryati jika program magang tersebut penting diikuti para bidan yang baru lulus agar siap terjun di lapangan.

“Mereka magang selama dua tahun di bidan praktek mandiri, ada sertifikat untuk mereka. Ini penting agar mereka siap kerja,” pungkasnya.

Riwayat pendidikan:

– SPK lulus tahun 1987
– P2B lulus tahun 1996
– D3 Kebidanan lulus tahun 2005
– D4 Kebidanan lulus tahun 2012