Bayi Berat Lahir Rendah

Tidak ada komentar 1209 views

bblrSalah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR). BBLR adalah semua bayi baru lahir dengan berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (Abdul Bari Saifuddin, 2002). BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu BBLR karena premature atau BBLR karena Intrauterine Growth Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang.

Diagram Angka Kematian Bayi Dengan Target MDGs

Menurut SKRT (2001) beberapa penyebab kematian bayi baru lahir di Indonesia BBLR menempati urutan pertama yaitu 29%, urutan kedua diduduki oleh asfiksia (27%), diikuti oleh tetanus neonatorum (10%), hipoglikemi (10%), gangguan metabolik (6%), infeksi (5%), dan lain-lain (13%).

Beberapa penelitian pun menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang dapat mengakibatkan bayi mengalami cacat seumur hidup dan kematian. Misalnya sebagai akibat hipotermia pada bayi baru lahir dapat terjadi cold stress yang selanjutnya dapat menyebabkan hipoksemia atau hipoglikemia dan mengakibatkan kerusakan otak (Sarwono, 2007).

 

Komplikasi yang Menyertai BBLR

  1. Hipoglikemia

Hipoglikemia neonatal paling sering terjadi pada bayi yang ibunya menderita diabetes, bayi kecil untuk masa kehamilan, dan bayi kecil prematur yang mengalami stress. Hipoglikemia neonatal simtomatis (mudah terganggu, gugup, kurang minum, dan lain-lain) sering terjadi pada bayi laki-laki terutama pada bayi KMK. Hipoglikemia ini paling sering (50%) tampak diantara bayi KMK yang benar-benar kecil (retardasi pertumbuhan asimetris). Hipoglikemia terjadi pada 12 jam pertama kehidupan tapi masih mungkin timbul dalam 48 jam. Maka dari itu kadar glukosa darah bayi KMK harus dipantau dengan cermat sampai mereka mampu mentoleransi pemberian minum per oral dengan volume yang cukup. (Marshall H Klaus, 1998).

  1. Hiperbilirubinemia

Hal ini dapat terjadi karena belum maturnya fungsi hepar. Kurangnya enzim glukorinil transferase sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk belum sempurna, dan kadar albumin darah yang berperan dalam transportasi bilirubin dari jaringan ke hepar kurang. Kadar bilirubin normal pada bayi prematur 10 mg/dL.

Tanda klinis hiperbilirubinemia yaitu sklera, puncak hidung, sekitar mulut, dada, perut, dan ekstremitas berwarna kuning, letargi, kemampuan pengisap menurun, kejang.Bayi dismatur lebih sering menderita hiperbilirubinemia dibandingkan bayi yang beratnya sesuai dengan masa kehamilan.Berat hati bayi dismatur kurang dibandingkan bayi biasa, mungkin disebabkan gangguan pertumbuhan hati.(Asrining S, 2003)

  1. Asfiksia

Tingkat kematangan fungsi sistem organ neonatus merupakan syarat untuk beradaptasi dengan kehidupan di luar rahim. Penyakit yang terjadi pada bayi prematur berhubungan dengan belum matangnya fungsi organ-organ tubuhnya. Hal ini berhubungan dengan umur kehamilan saat bayi dilahirkan. Makin muda umur kehamilan, makin tidak sempurna organ-organnya. (Asrining S, 2003)

  1. Infeksi

Bayi prematur mudah menderita infeksi karena imunitas humoral dan seluler masih kurang hingga bayi mudah menderita infeksi. Selain itu, karena kulit dan selaput lendir membrane tidak memiliki perlindungan seperti bayi cukup bulan (Asrining S, 2003).

Konsentrasi IgG serum, sebagai mekanisme pertahanan yang bermakna, cukup rendah pada neonatus KMK aterm dibandingkan dengan neonatus SMK aterm. Karena IgG ibu ditransfer secara aktif melalui placenta ke janin pada trimester terakhir. (Marshall H Klaus, 1998).

  1. RDS (Respiratory Distress Syndrome)

Sindrom gawat nafas (Respiratory Distress Syndrome, RDS) adalah istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru. Gangguan ini biasanya juga dikenal dengan nama Hyaline Membrane Disease (HMD) atau penyakit membran hialin yang melapisi alveoli (Asrining S, 2003). Yaitu kesukaran pernafasan pada bayi prematur dapat disebabkan belum sempurnanya pembentukan membran hialin surfaktan paru yang merupakan suatu zat yang dapat menurunkan tegangan dinding alveoli paru. Pertumbuhan surfaktan paru mencapai maksimum pada minggu ke-35 kehamilan. Defisiensi surfaktan menyebabkan gangguan kemampuan paru untuk mempertahankan stabilitasnya, alveolus akan kembali kolaps setiap akhir ekspirasi sehingga untuk pernafasan berikutnya dibutuhkan tekanan negatif intratoraks yang lebih besar yang disertai usaha inspirasi yang kuat (Asrining S, 2003).

 

Pencegahan BBLR

Upaya mencegah terjadinya persalinan prematuritas atau bayi berat badan lahir rendah lebih penting dari menghadapi kelahiran dengan berat yang rendah yaitu :

  • Upayakan agar melakukan antenatal care yang baik, segera melakukan konsultasi merujuk penderita bila terdapat kelainan.
  • Meningkatkan gizi masyarakat sehingga dapat mencegah terjadinya persalinan dengan berat badan lahir rendah.
  • Tingkatkan penerimaan gerakan keluarga berencana.
  • Anjurkan lebih banyak istirahat, bila kehamilan mendekati aterm atau istirahat baring bila terjadi keadaan yang menyimpang dari patrun normal kehamilan.
  • Tingkatkan kerjasama dengan dukun beranak yang masih mendapat kepercayaan masyarakat. (IBG Manuaba, 1998).

Dalam hal ini masalah yang cukup bermakna berhubungan dengan BBLR adalah asfiksia. Walaupun angka kejadian di tingkat nasional saat ini berkisar 3%, asfiksia perlu penanganan yang benar agar tidak menimbulkan kecacatan bayi dan gangguan pada tumbuh kembangnya di kemudian hari seperti lumpuh, tidak bisa mendengar, atau gangguan belajar.

 

Penulis : Erna Setiyaningrum, SST,MM,MA,Cd.Dr